Ketika Buya Ditangkap
by *Akmal Sjafril, ST, MPdI*
*assalaamu’alaikum wr. wb.*
Kejadian ini lebih dari empat puluh tahun yang lalu. Ketika itu,
pertentangan antara kubu Islam dan komunis telah hampir mencapai
klimaksnya. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang membawa ideologi komunis
(sekaligus atheis) bergandengan rapat dengan Presiden Soekarno. Golongan
Islam telah benar-benar dipinggirkan. Mohammad Natsir, yang pernah menjadi
kartu truf bagi Soekarno dalam menghadapi persoalan-persoalan dalam negeri,
telah diasingkan dari panggung politik. Partai Masyumi telah dibubarkan
beberapa tahun sebelumnya, bahkan PKI menggunakan nama ”Masyumi” untuk
konotasi buruk, sebagaimana media Barat kini mengasosiasikan jihad dengan
terorisme. Tuduhan ”ingin menghidupkan kembali Masyumi” pada masa itu
dipersepsikan sama buruknya dengan tuduhan ”ingin menghidupkan kembali PKI”
di masa kini.
Antara Buya Hamka dan Soekarno telah terjadi benturan yang sangat keras dan
nampaknya sudah tak bisa diperbaiki lagi. Buya, yang tadinya memandang
Soekarno sebagai anak muda penuh kharisma dan semangat, kini memandangnya
telah kebablasan. Pernah suatu ketika Soekarno menyatakan pandangannya
dalam sebuah sidang, kemudian ia mengatakan, ”Inilah ash-shiraath
al-mustaqiim!” (jalan yang benar). Buya menimpali, ”Bukan, itu adalah
ash-shiraat ila al-jahiim!” (jalan menuju Neraka Jahim). Sudah barang
tentu, Buya tidak pernah bisa menerima pemikiran Soekarno pada masa itu yang
sudah terlalu terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran sekuler dan
komunis. Itulah sebabnya Buya marah besar ketika Muhammadiyah
menganugerahinya suatu gelar kehormatan yang belum pernah diberikan
sebelumnya kepada orang lain.
Pada tahun 1964 itu, sudah beredar kabar bahwa para ulama dan pemuka umat
Islam, terutama tokoh-tokoh Masyumi, akan segera ditangkap. Buya Hamka
sendiri merasa dirinya bukan tokoh politik, karena memang ia kurang tertarik
pada politik. Dalam urusan politik, beliau mempercayakan pandangannya pada
sahabatnya, Natsir. Meskipun tidak punya jabatan tinggi di Masyumi, namun
beliau dikenal luas sebagai juru kampanye dan orator andalan partai itu.
Ketika beredar kabar bahwa tokoh-tokoh eks Masyumi dan para ’penentang
pemerintah’ akan ditangkap, sikap Buya relatif tenang, karena tidak merasa
sebagai tokoh penting di Masyumi, dan juga tidak merasa sebagai penentang
pemerintah.
Yang diisukan itu akhirnya terjadi juga. Pagi itu, Buya Hamka baru saja
pulang sehabis mengisi pengajian ibu-ibu. Sesampainya di rumah, beliau
beristirahat sejenak, sementara Ummi Siti Raham, istrinya, tidur di kamar
karena sedang tidak sehat. Sekonyong-konyong datanglah beberapa orang
polisi berpakaian preman yang menunjukkan surat perintah penangkapan
terhadap dirinya. ”Jadi saya ditangkap?”, ujar Buya yang masih diliputi
keheranan, berkata pelan-pelan agar tidak mengejutkan istrinya. Rusydi,
anak beliau, membereskan pakaian secukupnya untuk beliau bawa.
Suara gaduh akhirnya membangunkan sang istri yang juga tidak tahu mesti
berkomentar apa menanggapi penangkapan itu. Buya hanya merangkul bahunya,
menghiburnya agar tetap tegar. Kepada istri dan anak-anaknya, Buya Hamka
berpesan bahwa insya Allah penangkapannya takkan lama, karena ia sendiri
merasa tak pernah berbuat salah. Tidak ada informasi ke mana beliau dibawa,
hanya ada pesan bahwa keluarganya boleh menghubungi Mabes Polri untuk
informasi lebih lanjut. Maka dibawalah Buya ke dalam sebuah mobil yang
segera melesat, entah ke mana. Setelah mobil menghilang dari pandangan,
pingsanlah Ummi Siti Raham.
Selama beberapa waktu lamanya, tidak ada kabar sama sekali tentang Buya.
Tidak ada yang tahu di mana beliau ditahan, apa tuduhannya, bahkan masih
hidup atau tidaknya pun entah. Sampai akhirnya ada berita bahwa keluarga
boleh mengunjunginya di Sukabumi, barulah istri dan kesepuluh anaknya dapat
bertemu. Di bawah pengawasan para penjaga yang berwajah sangar, Buya sempat
menyelundupkan pesan ke salah satu anak laki-lakinya, ”Para penjaga ini sama
dengan Gestapo Nazi!” Secarik surat juga sempat disisipkan untuk dibaca
oleh keluarganya di rumah.
Terkejutlah keluarganya membaca pesan Buya, sebagaimana Buya juga terkejut
ketika pertama kali interogatornya memberi tahu tuduhan-tuduhan yang
ditimpakan kepada dirinya. Terlibat dalam rapat rahasia menggulingkan
Presiden, menerima uang empat juta (tidak jelas mata uangnya) dari Perdana
Menteri Malaysia, memberikan kuliah yang bersifat subversif, dan berbagai
kejahatan lainnya.
Dalam penahanan, sudah tak ada lagi gelar ulama, bahkan para interogator
tidak ada yang memanggilnya Buya, meskipun seluruh warga Indonesia sudah
biasa dengan sebutan itu. Dari hari ke hari, beliau diinterogasi dengan
kata-kata kasar dan penuh hinaan, hingga suatu hari pernah beliau tergoda
untuk melakukan perlawanan, namun dibatalkannya setelah menyadari bahwa hal
itu hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk. Tuduhan-tuduhan yang
ditimpakan padanya murni dibuat-buat, karena pada tanggal terjadinya rapat
gelap tersebut (jika memang rapat itu ada) beliau tengah menghadiri sebuah
acara besar yang dihadiri banyak orang, dan beliau pun berbicara pada acara
itu, disaksikan semua orang. Dalam kuliah yang diberikannya itu, sama
sekali tak ada unsur subversif. Bahkan dalam kuliah itu Hamka mengatakan
bahwa cara-cara yang telah ditempuh Daud Beureueh telah gagal, karena itu
jangan gunakan lagi cara yang sama. Tempuhlah cara-cara damai untuk
menyebarkan ajaran Islam di negeri ini. Satu dari mahasiswa yang menghadiri
kuliah tersebut ternyata menjadi mata-mata dan melaporkan ucapan Buya dengan
tidak utuh.
Para interogator tak mau tahu apa pun alasan yang diberikan, karena tujuan
mereka memang untuk membuat Buya mengaku, bukan untuk mengorek kebenaran.
Kata mereka, sudah banyak saksi yang mengatakan bahwa Buya memang hadir
dalam rapat gelap, diantaranya si fulan dan si fulan. Dalam suatu
kesempatan, akhirnya permohonan Buya untuk dipertemukan dengan salah seorang
yang bersaksi demikian dikabulkan. Orang itu baru ditemuinya dua kali.
Akan tetapi, di hadapan penyidik, ia bilang Hamka memang melakukan ini dan
itu. Ketika ditinggal berdua dengannya, tahulah Buya bahwa orang ini hanya
mengaku-ngaku saja lantaran tak berani menerima siksaan. Selain dia, sudah
ada orang lain yang disiksa karena tak mau mengakui skenario bikinan
pemerintah. Siksaan yang diterima Buya rupanya masih jauh dari maksimal,
karena yang lain sudah dipukul dan disetrum.
Pada suatu hari, kelelahan Buya telah memuncak. Ketika itu, tim interogator
datang seperti biasa, dengan wajah yang sangarnya tidak dibuat-buat. Salah
seorang diantaranya membawa sebuah bungkusan yang isinya tak terlihat.
Buya, yang sudah terlalu capek, meminta agar para penyidik itu menuliskan
saja apa-apa yang telah dituduhkan kepadanya, dan ia akan menandatanganinya,
jika memang itu yang mereka inginkan. Para penyidik pun senang, kemudian
Buya dapat istirahat beberapa lama sementara mereka menyusun konsep yang
akan ditandatanganinya.
Kejadian terjadi susul-menyusul. Terungkaplah nama orang yang telah
memfitnah Buya Hamka, dan orang itu pun telah berada di tahanan polisi (dan
disiksa juga). Tidak banyak informasi yang bisa didapatkan perihal
sebab-musabab dihembuskannya fitnah itu. Yang jelas, sejak itu, sikap para
penyidik menjadi lunak. Beberapa yang tadinya kejam dan sangar bahkan mulai
memanggilnya Buya, membawakan makanan. Seorang diantaranya, yang pernah
membawa bungkusan, meminta diajari doa-doa yang biasa dibaca Buya. Buya pun
mengajarinya beberapa doa, sambil berpesan bahwa doa-doa tersebut hanyalah
tambahan saja, sedangkan yang paling utama dan tak boleh ditinggalkan adalah
shalat lima waktu. Setelah ia pergi, seorang polisi muda datang dan
menitikkan air mata di hadapan Buya. Katanya, ia menangis dan berdoa di
luar ruangan tempat Buya diinterogasi dahulu, karena penyidik yang tadi baru
saja minta diajarkan doa-doa itu sebenarnya membawa alat untuk menyetrum
Buya, yang disembunyikannya dalam sebuah bungkusan. Syukur alhamdulillaah,
tubuh Buya tak perlu mengalami siksaan itu.
Pada tahun 1966, bersamaan dengan hancurnya kekuasaan PKI dan pemerintahan
Soekarno, Buya Hamka dibebaskan. Semua tuduhan pada dirinya dihapuskan.
Setelah peristiwa itu, tak pernah terdengar Buya menuntut balas atas
kezaliman yang telah dialaminya. Dalam pendahuluannya untuk Tafsir
Al-Azhar, Buya mengatakan bahwa kejadian itu sangat besar hikmahnya, karena
tafsir yang hanya selesai sedikit setelah dikerjakan bertahun-tahun ternyata
bisa tuntas dalam masa dua tahun di penjara. Di penjara itu pula Buya
mendapat banyak waktu untuk melahap buku-buku yang ingin dibacanya, dan
larut dalam ibadah shalat malam dan tilawah. Buya hidup seperti biasa,
tanpa memendam dendam, bahkan sampai membuat anaknya, Rusydi, merasa gemas
bukan kepalang ketika beliau menitikkan air mata ketika mendengar Soekarno
telah wafat. Banyak orang memintanya agar tidak menshalatkan Soekarno, akan
tetapi beliau pergi juga, bahkan menjadi imam shalat jenazahnya. Begitulah
Buya Hamka.
Dari masa ke masa, gerakan Islam memang seringkali dipandang sebagai ancaman
oleh penguasa. Alasannya adalah tauhid itu sendiri, karena ajaran tauhid
menghendaki setiap manusia diberi kemerdekaan dan tidak tunduk pada siapa
dan apa pun, kecuali kepada Allah. Sebaliknya, rejim penguasa yang lupa
daratan biasanya ingin terus berkuasa secara absolut. Ironisnya, ketika
negara dalam keadaan bahaya, misalnya ketika mengusir penjajah, sentimen
keislaman itulah yang paling efektif untuk dimanfaatkan. Sebab orang Islam
tak perlu diberi alasan panjang lebar untuk membela negeri tumpah darahnya
sendiri. Tak perlu diceramahi, tak perlu dipaksa-paksa, bahkan tak diberi
senjata pun ia akan melawan, sebab jiwanya telah dimerdekakan oleh tauhid.
Apa yang pernah terjadi pada Buya Hamka perlu menjadi renungan kita
bersama. Banyak orang, baik yang sejalan atau berbeda pandangan dengan
beliau, yang sangat terkejut mendengar kisah pengalaman beliau di penjara.
Betapa ganjilnya tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya, dan betapa
tidak pantas siksaan-siksaan yang telah (dan nyaris) dialaminya. Hamka
bukan tipe provokator, bahkan beliau tak pernah punya reputasi bertemperamen
tinggi sebagaimana ayahnya dulu. Semua orang mengenalnya sebagai pribadi
lembut yang tidak suka membesar-besarkan masalah, lebih suka bekerja sama
daripada berdebat, dan lebih suka mengalah daripada memperpanjang masalah.
Sudah barang tentu semua orang pun paham bahwa tuduhan subversif kepada
Hamka adalah dagelan belaka.
Bagaimanapun lembutnya Buya, hal itu terjadi juga padanya. Betapa pun
lembutnya ajaran beliau, tetap saja dituduh subversif. Tentu saja ini bukan
berarti bahwa kita harus meninggalkan cara-cara kelembutan dengan mengatakan
bahwa cara-cara tersebut telah terbukti gagal dalam kasus Buya Hamka.
Memang jalan kelembutan itulah yang dikehendaki Islam, dan gerakan Islam
harus terus waspada atas fitnah yang dihembuskan orang kepadanya. Jika
kepada orang tua seperti Buya Hamka pun mereka tega menyiksa dengan setruman
(walaupun tidak jadi dilakukan), bisa dibayangkan hal kejam semacam apa yang
bisa mereka lakukan kepada para pemuda.
Sejarah telah membuktikan bahwa seringkali penegak keadilan itulah yang
membengkokkan keadilan. Kalau sudah demikian, rumit sekali masalahnya.
Kini, reputasi kepolisian sudah semakin memprihatinkan. Ketika orang
disuruh menghentikan kendaraannya, misalnya, banyak yang tidak lagi merasa
bersalah dan pantas ditilang, melainkan hanya memaklumi bahwa polisi yang
menghentikannya sedang mencari tambahan penghasilan. Benar-tidaknya
pandangan ini memang kasuistik sifatnya, namun stigma negatif semacam itu
memang telah melekat pada kepolisian. Tidak heran jika banyak yang curiga
bahwa yang dialami oleh Buya Hamka dulu itulah yang kini sedang dialami oleh
sebagian aktifis Muslim yang dituduh teroris. Aksi-aksi terorisme di
Indonesia, menurut sebagian rakyat Indonesia, tidak lebih dari rekayasa
intelijen. Tidak jauh beda dengan fitnah yang dialami Buya dahulu.
Di sisi lain, sebagian media massa pun telah bertindak tidak adil.
Sementara peradilan belum dijalankan, label teroris telah diberikan.
Sungguh menarik, betapa cepatnya media percaya pada keterangan polisi
(padahal keterangan penyidik bukanlah vonis hukum) dalam kasus-kasus
terorisme, sedangkan dalam kasus-kasus lain seperti skandal Bank Century,
mereka cenderung berkeyakinan bahwa kepolisian telah bertindak tidak jujur.
Kita, sebagai umat Islam, harus pandai memetik hikmah dari sejarah panjang
ini.
*wassalaamu’alaikum wr. wb.*
http://akmal.multiply.com
Sesungguhnya, hanya dengan mengingat Allah, hati akan tenang.
now surely by Allah’s remembrance are the hearts set at rest.
N’est-ce point par l’évocation d’Allah que se tranquillisent les coeurs.
im Gedenken Allahs ist’s, daß Herzen Trost finden können.
>> al-Ra’d [13]: 28
Mailing List Keadilan4all
Milis PKS (UnOfficial)








Opini Anda